google-site-verification: google47c9c87dd4000082.html Edukasi: Tahun ajaran baru

Rabu, 15 Desember 2010

Tahun ajaran baru

Tahun ajaran baru bagi anak adalah pengalaman baru. Bagaimana jika anak merasa tak nyaman dengan suasana ini? “

Aku enggak mau sekolah. Kepalaku pusing, perutku sakit”

 Suatu hari buah hati anda ‘mogok’ sekolah. Pagi-pagi Rafli tidak beranjak dari tempat tidurnya, ketika anda membuka pintu kamarnya, bocah kelas 1 SD ini memejamkan mata—pura-pura tidur.

 Ini sudah terjadi dua kali, padahal belum seminggu Rafli masuk sekolah. Dua hari lalu beralasan sakit perut, dan alasan itu kelihatan begitu meyakinkan karena ia meringis sambil memegangi perutnya.

  Hal sama rupanya juga dialami Vito, bocah kelas 3 SD ini bahkan sampai muntah. Vito sering mengeluh sakit perut, dokter yang memeriksa tak menemukan penyakitnya. Selama ini bocah berusia 8 tahun ini adalah siswa yang pandai, selain berprestasi di pelajaran, ia juga memiliki seabrek kegiatan, seperti les piano, les bahasa Inggeris, dan taekwondo.

 Keluhan sakit perut yang dialami Vito, membuat orangtuanya khawatir, lalu membawanya ke psikiater anak. Ternyata, bocah kecil ini mengalami stres, yang dimanifestasikan dengan berbagai keluhan fisik, salah satunya sakit perut. Dokter menyarankan agar orangtua Vito menjadwal ulang kegiatan sang putra, agar ada waktu baginya untuk bermain dan rileks. Benar! Dalam beberapa bulan kemudian, penyakit perut Vito berangsur membaik.

 Suasana baru undang stres
 Suatu perubahan, pengalaman atau suasana baru seringkali menyebabkan seorang anak stress. Salah satunya adalah ketika ia masuk sekolah. Mereka berhadapan dengan segala hal yang serba baru; teman baru, lingkungan baru, guru baru, ditambah lagi pelajaran baru.

 Reaksi anak menghadapi suasana baru bisa bermacam-macam:

Reaksi penolakan
terhadap hal / sesuatu yang baru, termasuk tidakmau bersekolah di tempat yang baru,
malas untuk berangkat sekolah Berupa keluhan fisik (sakit perut, keringat dingin, sakit kepala).
Bereaksi dengan menangis, menjadi agresif, suka membantah, cemas, panik atau bersifat sensitif. Beberapa anak berubah menjadi pencemas, penakut atau mudah panik
.
Tak jarang stres juga memicu munculnya gangguan kesehatan (psycosomatic) seperti; batuk kronik berulang, serangan asma, demam, migren, gangguan perut seperti colitis, irritable bowel syndrom (IBS) dan keluhan lambung (peptic ulcer).

 Keluhan fisik 
 Kadang-kadang anak mengeluh sakit namun orangtua tidak dapat menemukan apa penyakitnya. Mungkin inilah yang disebut sebagai gejala psikosomatis (somatic complaints), yang akan memunculkan berbagai gangguan fisik.—salah satunya seperti contoh di atas.

 Penyebab psikosomatis bermacam-macam, yang pasti hal itu terjadi sebagai refleksi stres dalam menghadapi suasana baru, tuntutan sekolah, berpisah dari orangtua, cemas perpisahan (meski hanya saat bersekolah). Stres dapat menyebabkan gangguan baik langsung berefek pada tubuh maupun pikiran, memunculkan berbagai gangguan sehingga akhirnya anak menjadi sakit.

 Apa gejala psikosomatis?

  •  Sakit kepala 
  • Sakit perut (abdominal distress), kolik 
  • Sakit punggung Kelelahan (fatique)
  •  Sakit otot 


Masalah
dalam pelajaran, menolak bersekolah, menarik diri dari pergaulan, kecemasan dan masalah dalam berperilaku kadang-kadang menyertai psikosomatis. Psikosomatis harus dibedakan menjadi dua; Malingering disorder dan Factitious disorder, yang mana keduanya dibedakan atas sengaja atau tidak disengaja.

 Apa yang dapat dilakukan orangtua?
1.  Terlebih dahulu orangtua instropeksi diri, apakah selama ini mereka sudah mampu mengelola stres mereka dengan baik. Penelitian menunjukkan orangtua yang memiliki pengalaman traumatik seperti gempa atau perang, akan menularkan stresnya kepada anak.

2.Begitu juga dalam kehidupan perkawinan, bagaimana hubungan dan komunikasi anda dan pasangan, apakah berjalan baik?

3. Berkomunikasi dengan baik. Buka keran komunikasi sebesar-besarnya dengan anak. Anak-anak merasa nyaman jika orangtua mau mendengarkan mereka. Dalam memilih sekolah atau kegiatan baru, sertakan anak untuk memilih tempat sesuai dengan keinginannya.

4.Jangan paksakan anak dengan berbagai kegiatan. Buatlah jadwal agar mereka dapat tidur cukup, bermain, dan melakukan aktivitas lain yang menyenangkan.

5. Sebaiknya orangtua memberikan contoh bagaimana menghadapi sesuatu hal yang baru, baik dalam bentuk kegiatan baru, tempat baru, dan sebagainya. Bagaimanapun, gangguan yang dialami anak yang membuatnya begitu ‘tersiksa’ saat bersekolah memerlukan pertolongan, sebagai orangtua anda mesti mewaspadainya. Upayakan untuk dapat menggali informasi penyebab penolakan sekolah anak. Bila tidak memberikan hasil segera konsultasikan dengan ahlinya.

0 komentar:

Posting Komentar

 

Edukasi Copyright © 2009 WoodMag is Designed by Ipietoon for Free Blogger Template