google-site-verification: google47c9c87dd4000082.html Edukasi: Bermain Bisa Jadi Sarana Belajar

Rabu, 15 Desember 2010

Bermain Bisa Jadi Sarana Belajar

Bermain menjadi sarana belajar tidak harus dengan mebaca buku dan tidak harus dilakukan didalam kelas. Ternyata bermain juga berguna untuk mengembangkan seluruh kapasitas anak. Bahkan 70% berkembangnya otak pada anak ditiga tahun pertama, dioptimalkan untuk bermain.

 Sayangnya, masih ada orang tua yang memandang bahwa, kegiatan bermain itu salah. Bagi mereka , kegiatan bermain adalah kegiatan sebagai hiburan fisik sehingga tidak dianggap penting. Memang tidak bisa dipungkiri para orang tua lebih suka anaknya belajar atau diam beristirahat. Karena tingginya keinginan orang tua agar anak untuk berprestasi dalam akademik. Para orang tua tidak menyadari justru dengan hal tersebut bisa menjadikan tekanan pada anak.

 Dari pernyataan seorang psikolog dan terapist anak dra. Mayke S Tedjasaputra, M.Si. menegaskan bahwa, kegiatan bermain seperti halnya kegiatan pendidikan. Apalagi untuk anak TK dan play grup kebanyakan disekolah kegiatannya belajar sambil bermain. Terlebih, bermain merupakan hak anak, lewat kegiatan bermain”. Anak belajar, ada banyak pengalaman baru yang dialami anak, apalagi kemampuan seorang anak barulah praoperasional sehingga mereka perlu melakukan eksplorasi, melihat, meraba, atau menyentuh suatu obyek “, paparnya.

  Bermain menjadi sarana belajar tidak harus dengan mebaca buku dan tidak harus dilakukan didalam kelas. Ternyata bermain juga berguna untuk mengembangkan seluruh kapasitas anak. Bahkan 70% berkembangnya otak pada anak ditiga tahun pertama, dioptimalkan untuk bermain. Sayangnya, masih ada orang tua yang memandang bahwa, kegiatan bermain itu salah. Bagi mereka , kegiatan bermain adalah kegiatan sebagai hiburan fisik sehingga tidak dianggap penting. Memang tidak bisa dipungkiri para orang tua lebih suka anaknya belajar atau diam beristirahat. Karena tingginya keinginan orang tua agar anak untuk berprestasi dalam akademik. Para orang tua tidak menyadari justru dengan hal tersebut bisa menjadikan tekanan pada anak. Dari pernyataan seorang psikolog dan terapist anak dra. Mayke S Tedjasaputra, M.Si. menegaskan bahwa, kegiatan bermain seperti halnya kegiatan pendidikan. Apalagi untuk anak TK dan play grup kebanyakan disekolah kegiatannya belajar sambil bermain. Terlebih, bermain merupakan hak anak, lewat kegiatan bermain”. Anak belajar, ada banyak pengalaman baru yang dialami anak, apalagi kemampuan seorang anak barulah praoperasional sehingga mereka perlu melakukan eksplorasi, melihat, meraba, atau menyentuh suatu obyek “, paparnya. Ketika bermain , seorang anak juga akan belajar melalui trial and error sehingga mempunyai pengalaman dunia nyata. Dengan bermain maka seluruah kemampuan anak aakan terasah baik kemampuan kognitif, motorik ataupun sosial. Kemampuan motorik anak akan terasah karena anak terus bergerak sehingga mengaktifkan seluruh sel-sel motoriknya. Tentang kemampuan kognitif anak, hal ini akan terasah karena dari yang tidak tahu akan menjadi tahu. Untuk kemampuan sosialnya akan meningkat karena dengan bermain ia akan berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya sehingga ia akan sedikit banyak menyadari tentang milik sendiri dan milik temannya. Dengan bermain bersama ataupun berkelompok maka anak akan terlatih dan meningkatkan kepercayaan diri anak, ia juga akan berlatih dalam mengungkapka ide-ide kreatifnya.


 Tentunya yang perlu diperhatikan adalah bermain tetap menyenangkan dan aman. Tentunya hal ini berbeda-beda tergantung dari tipe seorang anak tersebut. Termasuk juga alat-alat bermain bisa disesuaikan dengan perkembangan seorang anak.

0 komentar:

Posting Komentar

 

Edukasi Copyright © 2009 WoodMag is Designed by Ipietoon for Free Blogger Template