google-site-verification: google47c9c87dd4000082.html Edukasi

Jumat, 07 Januari 2011

Berbakat tapi Tak Beprestasi Sesuai Potensinya

Anak atau peserta didik berbakat yang diperkirakan tidak berprestasi sesuai potensinya disebut underachiever. Ada beberapa ciri yang melekat pada peserta didik seperti ini. Menurut Conny R.Semiawan, pemerhati pendidikan yang juga Guru Besar Tetap Program Pascasarjana Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, beberapa ciri umum bisa dilihat pada siswa yang tergolong sebagai underachiever antara lain: - sikap yang pada umumnya tidak memperlihatkan kematangan - sikap negatif terhadap kondisi atau keadaan sekolah - sikap dan kebiasaan belajar yang kurang baik - sikap rendah diri (inferior) yang kadang berlebihan - cenderung defensif - kerap suka menyalahkan orang lain - merasa memiliki rasa harga diri yang rendah, yang seringkali ditunjukkannya dengan perilaku yang tidak produktif (malas) - rendahnya produktifitas yang menyebabkan proses belajar yang dilakoninya lebih sering tergantung pada orang lain (learned helplessness) Superachievement Conny menuturkan, problematika underachievement memiliki dua sisi. Sisi pertama adalah underachievement dalam arti yang sebenarnya, sedangkan yang kedua adalah underachievement yang disebut dengan superachievement, yaitu tekanan-tekanan yang dialami para peserta didik berbakat untuk menjadi sempurna dan sangat inteligen, keinginan menjadi anak luar biasa dibandingkan yang lainnya, merasa paling kreatif, serta kepedulian untuk dikagumi oleh teman sebaya karena penampilannya untuk memeroleh popularitas. Menurut Conny, ciri-ciri anak yang mengalami kondisi superachievement antara lain adalah: - cenderung mengalami stres yang diinternalisasikannya, karena orang-orang di sekitarnya terlalu mengagumi dan memujinya - sulit berkembang dan maju jika segala yang dilakukannya tidak mendapatkan pujian
Continue Reading...

Tahukah Anda Ciri-ciri Anak Underachiever?

Anak underachiever ada di setiap kelas dan berada dalam banyak keluarga. Mereka menyia-nyiakan sumber pendidikan, mencobai kesabaran para guru, dan memanipulasi keluarga mereka untuk melakukan yang mereka inginkan. Seperti apa ciri mereka? Dr Sylvia Rimm, psikolog dan penulis buku best seller "See Jane Win" menuturkan, anak yang underachieve atau seorang underachiever, kemungkinan adalah anak yang kreatif, sangat verbal dan berkemampuan matematis yang sangat tinggi. Meskipun begitu, dengan bakat dimilikinya, anak yang tergolong underachiever tidak sesukses anak-anak lain di sekolahnya. Underachievement dapat didefinisikan sebagai ketidakmampuan atau kegagalan untuk menampilkan tingkah laku atau prestasi sesuai dengan usia atau bakat yang dimiliki anak atau dengan kata lain, potensi yang tidak terpenuhi (unfulfilled potentials). Namun demikian, underachievers tidak tergolong ke dalam satu golongan atau memiliki karakteristik yang sama. Underachievement muncul dalam bentuk yang luas dan beragam. Profesor di Case Western Reserve University School of Medicine, Amerika Serikat. menyatakan, underachievers cenderung untuk tidak teratur dan terorganisir. Mereka memiliki kemampuan belajar yang kurang baik. Mereka menganggap diri mereka telah belajar jika mereka telah membaca bahan pelajaran secara sekilas. Direktur di Family Achievement Clinic at the Cleveland Clinic in Cleveland, Ohio, AS, ini menambahkan, beberapa di antara underachievers lambat dalam mengerjakan tugas dan perfeksionis. Atau sebaliknya, ada underachiever yang sangat cepat dalam mengerjakan tugas-tugasnya, tapi mereka tidak peduli dengan kualitas tugas yang dikerjakannya itu. Beberapa underachievers adalah penyendiri dan menarik diri dari keramaian. Mereka tampak tidak menginginkan teman. Bahkan mungkin, underachievers lainnya terlihat angkuh dan mudah marah, agresif, dan terkadang memulai perkelahian ketika mereka masih berada di taman kanak-kanak. Jika underachievers menunjukkan minat terhadap sekolah maka hal tersebut berkaitan dengan kehidupan sosial ataupun olahraga. Mereka akan memilih satu mata pelajaran yang disuka atau yang diajar oleh guru yang mereka sukai. Underachievers yang kreatif mungkin memiliki banyak ide tapi jarang sekali merealisasikan ide mereka menjadi kenyataan. Mereka jarang menyelesaikan pekerjaan yang telah mereka mulai. Manipulasi Hampir semua underachievers bersifat manipulatif terhadap lingkungannya. Secara terselubung, mereka dapat memanipulasi orangtua mereka untuk mengerjakan pekerjaan rumah mereka. Bahkan, mereka bisa "mengadali" gurunya untuk lebih membantu mereka atau memberikan tugas-tugas yang tidak terlalu menantang. Bagi anak underachiever, sekolah adalah hal paling membosankan atau tidak relevan. Jika prestasi mereka tidak baik, mereka menyalahkan guru mereka yang payah dalam mengajar. Pun, kadangkala mereka kadangkala mengklaim, bahwa mereka tidak memiliki kemampuan untuk mendapatkan hasil atau prestasi yang lebih baik dan tidak yakin apakah mereka akan berhasil jika mereka bekerja lebih keras dari sekarang. Rimm juga menyatakan, underachiever tidak dapat membangun kepercayaan diri yang kuat karena mereka tidak memahami inti dari bekerja keras. Menurutnya, kepercayaan diri dapat dibangun dengan menerima dan menaklukan setiap tantangan. Dan dari pencapaian yang aktual, seorang anak dapat membangun kepercayaan diri yang kuat. Toh, underachiever kerap menolak diri mereka sendiri terhadap kesempatan untuk membangun kepercayaan diri yang kuat karena mereka tidak mengalami hubungan antara proses dan hasil, antara usaha dan pencapaian. Jika siklus underachieve ini terus berlanjut, anak akan terus mengalami perasaan semakin tidak mampu. Ketakutan terhadap kegagalan meningkat, dan sense of efficacy mereka menurun.
Continue Reading...

Rabu, 15 Desember 2010

Tahun ajaran baru

Tahun ajaran baru bagi anak adalah pengalaman baru. Bagaimana jika anak merasa tak nyaman dengan suasana ini? “

Aku enggak mau sekolah. Kepalaku pusing, perutku sakit”

 Suatu hari buah hati anda ‘mogok’ sekolah. Pagi-pagi Rafli tidak beranjak dari tempat tidurnya, ketika anda membuka pintu kamarnya, bocah kelas 1 SD ini memejamkan mata—pura-pura tidur.

 Ini sudah terjadi dua kali, padahal belum seminggu Rafli masuk sekolah. Dua hari lalu beralasan sakit perut, dan alasan itu kelihatan begitu meyakinkan karena ia meringis sambil memegangi perutnya.

  Hal sama rupanya juga dialami Vito, bocah kelas 3 SD ini bahkan sampai muntah. Vito sering mengeluh sakit perut, dokter yang memeriksa tak menemukan penyakitnya. Selama ini bocah berusia 8 tahun ini adalah siswa yang pandai, selain berprestasi di pelajaran, ia juga memiliki seabrek kegiatan, seperti les piano, les bahasa Inggeris, dan taekwondo.

 Keluhan sakit perut yang dialami Vito, membuat orangtuanya khawatir, lalu membawanya ke psikiater anak. Ternyata, bocah kecil ini mengalami stres, yang dimanifestasikan dengan berbagai keluhan fisik, salah satunya sakit perut. Dokter menyarankan agar orangtua Vito menjadwal ulang kegiatan sang putra, agar ada waktu baginya untuk bermain dan rileks. Benar! Dalam beberapa bulan kemudian, penyakit perut Vito berangsur membaik.

 Suasana baru undang stres
 Suatu perubahan, pengalaman atau suasana baru seringkali menyebabkan seorang anak stress. Salah satunya adalah ketika ia masuk sekolah. Mereka berhadapan dengan segala hal yang serba baru; teman baru, lingkungan baru, guru baru, ditambah lagi pelajaran baru.

 Reaksi anak menghadapi suasana baru bisa bermacam-macam:

Reaksi penolakan
terhadap hal / sesuatu yang baru, termasuk tidakmau bersekolah di tempat yang baru,
malas untuk berangkat sekolah Berupa keluhan fisik (sakit perut, keringat dingin, sakit kepala).
Bereaksi dengan menangis, menjadi agresif, suka membantah, cemas, panik atau bersifat sensitif. Beberapa anak berubah menjadi pencemas, penakut atau mudah panik
.
Tak jarang stres juga memicu munculnya gangguan kesehatan (psycosomatic) seperti; batuk kronik berulang, serangan asma, demam, migren, gangguan perut seperti colitis, irritable bowel syndrom (IBS) dan keluhan lambung (peptic ulcer).

 Keluhan fisik 
 Kadang-kadang anak mengeluh sakit namun orangtua tidak dapat menemukan apa penyakitnya. Mungkin inilah yang disebut sebagai gejala psikosomatis (somatic complaints), yang akan memunculkan berbagai gangguan fisik.—salah satunya seperti contoh di atas.

 Penyebab psikosomatis bermacam-macam, yang pasti hal itu terjadi sebagai refleksi stres dalam menghadapi suasana baru, tuntutan sekolah, berpisah dari orangtua, cemas perpisahan (meski hanya saat bersekolah). Stres dapat menyebabkan gangguan baik langsung berefek pada tubuh maupun pikiran, memunculkan berbagai gangguan sehingga akhirnya anak menjadi sakit.

 Apa gejala psikosomatis?

  •  Sakit kepala 
  • Sakit perut (abdominal distress), kolik 
  • Sakit punggung Kelelahan (fatique)
  •  Sakit otot 


Masalah
dalam pelajaran, menolak bersekolah, menarik diri dari pergaulan, kecemasan dan masalah dalam berperilaku kadang-kadang menyertai psikosomatis. Psikosomatis harus dibedakan menjadi dua; Malingering disorder dan Factitious disorder, yang mana keduanya dibedakan atas sengaja atau tidak disengaja.

 Apa yang dapat dilakukan orangtua?
1.  Terlebih dahulu orangtua instropeksi diri, apakah selama ini mereka sudah mampu mengelola stres mereka dengan baik. Penelitian menunjukkan orangtua yang memiliki pengalaman traumatik seperti gempa atau perang, akan menularkan stresnya kepada anak.

2.Begitu juga dalam kehidupan perkawinan, bagaimana hubungan dan komunikasi anda dan pasangan, apakah berjalan baik?

3. Berkomunikasi dengan baik. Buka keran komunikasi sebesar-besarnya dengan anak. Anak-anak merasa nyaman jika orangtua mau mendengarkan mereka. Dalam memilih sekolah atau kegiatan baru, sertakan anak untuk memilih tempat sesuai dengan keinginannya.

4.Jangan paksakan anak dengan berbagai kegiatan. Buatlah jadwal agar mereka dapat tidur cukup, bermain, dan melakukan aktivitas lain yang menyenangkan.

5. Sebaiknya orangtua memberikan contoh bagaimana menghadapi sesuatu hal yang baru, baik dalam bentuk kegiatan baru, tempat baru, dan sebagainya. Bagaimanapun, gangguan yang dialami anak yang membuatnya begitu ‘tersiksa’ saat bersekolah memerlukan pertolongan, sebagai orangtua anda mesti mewaspadainya. Upayakan untuk dapat menggali informasi penyebab penolakan sekolah anak. Bila tidak memberikan hasil segera konsultasikan dengan ahlinya.
Continue Reading...

Bagaimana Kabut Terbentuk

Pernahkah kamu melihat kabut? Lalu, apa sih kabut itu? Kabut adalah kumpulan tetes-tetes air yang sangat kecil yang melayang-layang di udara. Kabut mirip dengan awan, perbedaannya, awan tidak menyentuh permukaan bumi, sedangkan kabut menyentuh permukaan bumi. Biasanya kabut bisa dilihat di daerah yang dingin atau daerah yang tinggi. Kira-kira bagaimana ya kabut bisa terbentuk?
Jika ingin tahu jawabannya silahkan lanjutkan membaca artikel ini selengkapnya.

 Pada umumnya, kabut terbentuk ketika udara yang jenuh akan uap air didinginkan di bawah titik bekunya. Jika udara berada di atas daerah perindustrian, udara itu mungkin juga mengandung asap yang bercampur kabut membentuk kabut berasap, campuran yang mencekik dan pedas yang menyebabkan orang terbatuk. Di kota-kota besar, asap pembuangan mobil dan polutan lainnya mengandung hidrokarbon dan oksida-oksida nitrogen yang dirubah menjadi kabut berasap fotokimia oleh sinar matahari. Ozon dapat terbentuk di dalam kabut berasap ini menambah racun lainnya di dalam udara. Kabut berasap ini mengiritasikan mata dan merusak paru-paru. Seperti hujan asam, kabut berasap dapat dicegah dengan mengehentikan pencemaran atmosfer. 


Kabut juga dapat terbentuk dari uap air yang berasal dari tanah yang lembab, tanaman-tanaman, sungai, danau, dan lautan. Uap air ini berkembang dan menjadi dingin ketika naik ke udara. Udara dapat menahan uap air hanya dalam jumlah tertentu pada suhu tertentu. Udara pada suhu 30º C dapat mengandung uap air sebangyak 30 gr uap air per m3, maka udara itu mengandung jumlah maksimum uap air yang dapat ditahannya. Volume yang sama pada suhu 20º C udara hanya dapat menahan 17 gr uap air. Sebanyak itulah yang dapat ditahannya pada suhu tersebut. Nah, udara yang mengandung uap air sebanyak yang dapat dikandungnya disebut udara jenuh.



 Ketika suhu udara turun dan jumlah uap air melewati jumlah maksimum uap air yang dapat ditahan udara, maka sebagian uap air tersebut mulai berubah menjadi embun. Kabut akan hilang ketika suhu udara meningkat dan kemampuan udara menahan uap air bertambah. Menurut istilah yang diakui secara internasional, kabut adalah embun yang mengganggu penglihatan hingga kurang dari 1 Km.


 Saat ini ada 4 macam jenis kabut yang diketahui, yaitu :

  • Kabut Advection 
  • Kabut Frontal 
  • Kabut Radisi
  • Kabut Gunung

Kabut Advection 
Kabut advection adalah kabut yang terbentuk dari aliran udara yang melalui suatu permukaan yang memiliki suhu yang berbeda. Salah satu contoh kabut ini adalah kabut Laut yang terjadi ketika udara yang basah dan hangat mengalir di atas suatu permukaan yang dingin. Kabut laut sering muncul di sepanjang pesisir pantai dan di tepi-tepi danau.

 Salah satu jenis yang lain dari Kabut Advection disebut Kabut Uap. Kabut ini terbentuk dari aliran udara dingin yang melalui air hangat. Uap air dari hasil penguapan permukaan air secara terus menerus, bertemu dengan udara dingin. Ketika udara mencapai titik jenuh, maka kelebihan uap air secara cepat mengembun menjadi kabut yang berasal dari penguapan permukaan air. Kabut Uap sering muncul pada saat udara dingin bertiup di atas danau yang luas dan bertiup diatas danau yang hangat.

 Kabut Frontal 
 Kabut frontal terbentuk melalui suatu pertemuan antara dua masa udara yang berbeda temperaturnya. Kabut ini terbentuk ketika hujan turun dari masa udara yang hangat ke dalam masa udara yang dingin tempat uap air menguap. Dengan demikian akan menyebabkan uap air pada udara dingin melampau titik jenuh.

 Kabut Radisi 
 Kabut radiasi terbentuk pada malam yang tenang dan bersih, ketika tanah memancarkan kembali panas ke dalam udara. Satu lapis kabut terbentuk di seluruh permukaan tanah, dan secara bertahap bertambah menjadi tebal. Kabut Radiasi sering muncul di lembah-lembah yang dalam.

 Kabut Gunung 
 Kabut gunung terbentuk ketika uap air bergerak menuju ke atas melewati lereng-lereng gunung. Udara dingin bergerak ke atas lereng sampai tidak sanggup menahan uap air. Titik-titik kabut kemudian terbentuk di sepanjang lereng gunung.
Continue Reading...

Edukasi Seks Bisa Tangkal Remaja Berhubungan Intim di Usia Dini

Para remaja yang pernah men­da­pat edukasi seks secara formal di­ketahui tidak akan menjalani hu­bungan intim pertamanya di usia dini.

 Hal ini ditemukan tim peneliti da­ri Amerika Serikat, yang me­nga­takan bahwa para remaja le­la­ki yang pernah mendapat pe­la­jaran seks di sekolah, 71 persen di antaranya mengaku tidak ber­hu­bungan intim sampai mereka berusia 15 tahun.

 Sedangkan remaja putri yang ju­ga mendapat pelajaran seks, 59 per­sen di antaranya tidak ber­hu­bu­ngan intim di bawah 15 tahun.

 Di samping itu, pengetahuan ten­tang seks yang didapat dari se­ko­lah meningkatkan kesadaraan peng­gunaan kontrasepsi pada re­ma­ja lelaki saat berhubungan per­ta­ma kali. Demikian menurut pe­nelitian Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (CDC) di AS, yang hasilnya diterbitkan di Journal of Adolescent Health.P


 ”Melihat hasil penelitan, se­per­ti­nya edukasi seks sepertinya ber­ha­sil,” kata Trisha Mueller, se­orang epidemiologi yang be­ke­r­ja­sama dengan CDC dalam penelitian. 


 ”Pelajaran seks tersebut ber­ha­sil, khususnya untuk populasi yang biasanya berada pada risiko ting­gi terkena penyakit menular sek­sual,” tambahnya. Penelitian ini bermula pada tim Muel­ler yang melihat survei na­sio­nal 2002, yang melibatkan 2.019 remaja berusia 15 hingga 19 tahun.


 Mereka menemukan anak laki-laki yang mendapat pelajaran seks di sekolah, tiga kali lebih da­pat mengontrol kelahiran karena me­reka tidak melakukan hubung­an intim pada usia dini.


 Tetapi, edukasi seks ini tdiak ber­pengaruh banyak terhadap re­ma­ja perempuan, dimana mereka kurang bisa mengontrol kelahiran bayi. 


 Yang lebih parah, sebanyak 91 re­maja putri berkulit hitam yang men­dapat pelajaran seks, ternyata te­lah berhubungan intim di ba­wah usia 15 tahun. Sayangnya, melihat kenyataan ini, tim peneliti tidak menge­va­lua­si isi program edukasi seks di sekolah-sekolah.
Continue Reading...

Bermain Bisa Jadi Sarana Belajar

Bermain menjadi sarana belajar tidak harus dengan mebaca buku dan tidak harus dilakukan didalam kelas. Ternyata bermain juga berguna untuk mengembangkan seluruh kapasitas anak. Bahkan 70% berkembangnya otak pada anak ditiga tahun pertama, dioptimalkan untuk bermain.

 Sayangnya, masih ada orang tua yang memandang bahwa, kegiatan bermain itu salah. Bagi mereka , kegiatan bermain adalah kegiatan sebagai hiburan fisik sehingga tidak dianggap penting. Memang tidak bisa dipungkiri para orang tua lebih suka anaknya belajar atau diam beristirahat. Karena tingginya keinginan orang tua agar anak untuk berprestasi dalam akademik. Para orang tua tidak menyadari justru dengan hal tersebut bisa menjadikan tekanan pada anak.

 Dari pernyataan seorang psikolog dan terapist anak dra. Mayke S Tedjasaputra, M.Si. menegaskan bahwa, kegiatan bermain seperti halnya kegiatan pendidikan. Apalagi untuk anak TK dan play grup kebanyakan disekolah kegiatannya belajar sambil bermain. Terlebih, bermain merupakan hak anak, lewat kegiatan bermain”. Anak belajar, ada banyak pengalaman baru yang dialami anak, apalagi kemampuan seorang anak barulah praoperasional sehingga mereka perlu melakukan eksplorasi, melihat, meraba, atau menyentuh suatu obyek “, paparnya.

  Bermain menjadi sarana belajar tidak harus dengan mebaca buku dan tidak harus dilakukan didalam kelas. Ternyata bermain juga berguna untuk mengembangkan seluruh kapasitas anak. Bahkan 70% berkembangnya otak pada anak ditiga tahun pertama, dioptimalkan untuk bermain. Sayangnya, masih ada orang tua yang memandang bahwa, kegiatan bermain itu salah. Bagi mereka , kegiatan bermain adalah kegiatan sebagai hiburan fisik sehingga tidak dianggap penting. Memang tidak bisa dipungkiri para orang tua lebih suka anaknya belajar atau diam beristirahat. Karena tingginya keinginan orang tua agar anak untuk berprestasi dalam akademik. Para orang tua tidak menyadari justru dengan hal tersebut bisa menjadikan tekanan pada anak. Dari pernyataan seorang psikolog dan terapist anak dra. Mayke S Tedjasaputra, M.Si. menegaskan bahwa, kegiatan bermain seperti halnya kegiatan pendidikan. Apalagi untuk anak TK dan play grup kebanyakan disekolah kegiatannya belajar sambil bermain. Terlebih, bermain merupakan hak anak, lewat kegiatan bermain”. Anak belajar, ada banyak pengalaman baru yang dialami anak, apalagi kemampuan seorang anak barulah praoperasional sehingga mereka perlu melakukan eksplorasi, melihat, meraba, atau menyentuh suatu obyek “, paparnya. Ketika bermain , seorang anak juga akan belajar melalui trial and error sehingga mempunyai pengalaman dunia nyata. Dengan bermain maka seluruah kemampuan anak aakan terasah baik kemampuan kognitif, motorik ataupun sosial. Kemampuan motorik anak akan terasah karena anak terus bergerak sehingga mengaktifkan seluruh sel-sel motoriknya. Tentang kemampuan kognitif anak, hal ini akan terasah karena dari yang tidak tahu akan menjadi tahu. Untuk kemampuan sosialnya akan meningkat karena dengan bermain ia akan berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya sehingga ia akan sedikit banyak menyadari tentang milik sendiri dan milik temannya. Dengan bermain bersama ataupun berkelompok maka anak akan terlatih dan meningkatkan kepercayaan diri anak, ia juga akan berlatih dalam mengungkapka ide-ide kreatifnya.


 Tentunya yang perlu diperhatikan adalah bermain tetap menyenangkan dan aman. Tentunya hal ini berbeda-beda tergantung dari tipe seorang anak tersebut. Termasuk juga alat-alat bermain bisa disesuaikan dengan perkembangan seorang anak.
Continue Reading...

Makanan Peningkat Stamina Dan Konsentrasi Belajar Anak

Dimusim ulangan seperti ini, biasanya tak hanya anak yang stress, banyak orang tua yang juga stres. Mereka khawatir putra atau putrinya tidak mendapatkan nilai yang baik. Berbagai upaya tentunya diupayakan oleh setiap orang tua mulai dari mengingatkan anak untuk mengurangi bermainnya sampai seorang tua rela menemani anaknya untuk belajar. Tetapi mungkin ada satu hal terlupakan yaitu tentang makanan buat anak-anak mereka. Tentunya makanan yang sarat dengan gizi yang dapat meningkatkan stamina dan konsentrasi belajar anak agar senantiasa prima, dua hal ini yang perlu dijaga disaat anak harus bekerja keras memeras otak. Berikut beberapa makanan yang mendukung hal tersebut :


Snack yang kaya akan vitamin B 

Salah satu vitamin yang dibutuhkan oleh otak adalan vitamin B kompleks. Vitamin ini berperas besar dalam menghasilkan energi tubuh. Otak termasuk serakah dalam mmengambil energi, 25 % energi diambilnya untuk menjamin berlangsungnya jalinan pesan pada sel-sel saraf otak. Sedangkan tubuh membutuhkan vitamin ini untuk pembentukan sel-sel darah merah, si pembawa oksigen saat pembentukan energi.
 Anak yang kekurangan vitamin B akan mengalami sakit kepala, tidak atau kurang berkonsentrasi, daya ingat berkurang dan sering lesu. Karena itu, selain buah segar dan jus buah bubur kacang hijau dan bahan makanan yang kaya vitamin B baik diberikan sebagai makanan selingan sore. Sereal dengan susu juga oke.

 Bekali dengan makanan yang padat gizi.

Beristirahat disekolah merupakan saat yang ditunggu-tunggu. Anak ingin cepat melepaskan ketegangan setelah belajar atau ulangan. Mungkin saat itu energi mereka telah terkuras sehingga merasa lelah. Karena itu bawakan mereka bekal yang sehat, praktis dan tidak merepotkan berupa makanan padat gizi yang dapat memberikan energi,. misalnya pisang. PISANG YANG MUDAH DICERNA DAPAT DENGAN SEGERA MENINGKATKAN ENERGI, memperbaiki keadaaan mental anak dan juga anak akan merasakan senang. Dan memperoleh kembal;i keseimbangan emosinya. Kacang-kacangan juga baik sebagai penambah energi karena kandungan asam lemak, dan proteinnya bermanfaat sebagai penunjang daya tahan tubuh. Kandungan seleniumnya merupakan sumber antioksidan yang baik pula. Sementara kandungan magnesiumnya membantu menenangkan anak. Semua ini tentu akan menunjang daya tahan tubuhnya. Jus buah pun oke karena kandungan gula pada buah mudah diserap dan dapat segera masuk ke aliran darah. Dengan demikian kadar gula darah akan meningkat secara cepat dan itu akan menjadi sumber energi bagi otak.
Continue Reading...
 

Edukasi Copyright © 2009 WoodMag is Designed by Ipietoon for Free Blogger Template